Senin, 13 Mei 2013

TEKNIK STERILISASI KULTUR JARINGAN PADA TANAMAN TEBU


TEKNIK STERILISASI KULTUR JARINGAN PADA TANAMAN
JATI (Tectona grandis)1





1. Latar Belakang
Beberapa kelebihan dari penggunaan teknik kultur jaringan
dibandingkan dengan cara konvensional adalah (1) faktor
perbanyakan tinggi, (2) tidak tergantung pada musim karena
lingkungan tumbuh in-vitro terkendali, (3) bahan tanaman yang
digunakan sedikit sehingga tidak merusak pohon induk, (4)
tanaman yang dihasilkan bebas dari penyakit meskipun dari induk
yang mengandung patogen internal, (5) tidak membutuhkan
tempat yang sangat luas untuk menghasilkan tanaman dalam
jumlah banyak. Sedangkan masalah yang banyak dihadapi dalam
mengaplikasikan teknik kultur jaringan, khususnya di Indonesia
adalah modal investasi awal yang cukup besar dan sumber daya
manusia yang menguasai dan terampil dalam bidang kultur
jaringan tanaman masih terbatas. Masalah lain yang sering muncul
adalah tanaman hasil kultur jaringan sering berbeda dengan
tanaman induknya atau mengalami mutasi. Hal ini dapat terjadi
karena penggunaan metode perbanyakan yang salah, seperti
frekuensi subkultur yang terlalu tinggi, perbanyakan melalui
organogenesis yang tidak langsung (melalui fase kalus) atau
konsentrasi zat pengatur tumbuh yang digunakan terlalu tinggi
(Mariska et al., 1992).
.Salah satu
gangguan yang sering terjadi dalam pelaksanaan kultur jaringan
biasanya berasal dari individu tumbuhan atau eksplan yang
digunakan. Misalnya, tumbuhan berasal dari alam/lapangan,
kondisi tumbuhan yang terserang penyakit, dan bahan yang
tersedia terbatas (Darmono, 2003).
1.2. Tujuan
Percobaan ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh sterilan
terhadap eksplan tunas aksiler tanaman jati (Tectona grandis)
dalam kultur in vitro.
B. METODE PENELITIAN
1. Bahan dan Alat
a. Bahan
Media
Media yang digunakan dalam penelitian ini adalah media
MS lengkap (Murashige dan Skoog) dengan penambahan
NAA 100 ppm.
Eksplan
Eksplan yang digunakan adalah tunas aksiler tanaman jati
(Tectona grandis L.f) dari area tanam di Laboratorium
Kultur Jaringan BBPBPTH, Kaliurang, Yogyakarta.
Bahan Sterilisasi
Sterilan yang digunakan adalah etanol 70%, etanol 90%,
Sublimat/HgCl2 1%, bayclin/clorox 2%, dan aquades steril.
b. Alat-alat
Alat-alat yang digunakan meliputi botol kultur, alumunium foil,
Petri dish, pembakar spiritus, pisau, scalpel, pinset,
erlenmayer, pipet, pHmeter, autoklaf, neraca analitik,
magnetic sterer, laminar air flow cabinet, oven (microwave),
sprayer, dan ruang kultur.
2. Prosedur Penelitian
a. Sterilisasi
Sterilisasi Lingkungan Kerja
57
Sebelum digunakan, laminar air flow cabinet disterilkan
dengan menggunakan hand sprayer berisi alkohol 70%.
Setelah itu lampu UV dinyalakan selama 1-2 jam (selama
lampu UV menyala, kabin laminair air flow harus ditutup
rapat).
Sterilisasi Alat-alat dan Medium Kultur
Alat-alat dissecting-set dan glass ware yang akan
digunakan, dicuci dan dikeringkan kemudian dibungkus
dengan aluminium foil dan disterilisasi di dalam autoklaf
dengan suhu 121°C, selama 60 menit. Sedangkan botol
kultur yang telah berisi medium disterilisasi di dalam
autoklaf selama 20 menit.
Sterilisasi eksplan
Eksplan yang berasal dari lapangan dicuci bersih dengan
air mengalir. Kemudian eksplan dicuci dengan larutan
fungisida sembari digosok permukaannya dengan spon.
Setelah itu eksplan direndam dalam beaker glass yang
berisi larutan fungisida dan digojog di atas magnetic sterer
selama sepuluh menit. Kemudian dilakukan pembilasan
dengan air mengalir selama tiga menit. Selanjutnya
eksplan direndam dalam larutan detergen dan digojog di
atas magnetic sterer selama sepuluh menit lalu dibilas
kembali dengan air mengalir. Proses pencucian tersebut
dilakukan di luar laminar air flow.
Selanjutnya, dilakukan sterilisasi pada eksplan
menggunakan bahan sterilan di dalam laminar air flow
cabinet dengan perlakuan sebagai berikut:
1. Tunas aksiler jati dibilas dengan aquades steril satu
kali. Kemudian direndam dalam larutan bayclin/clorox
2% selama 5 menit, lalu dibilas dengan air steril satu
kali. Terakhir, tunas aksiler direndam dalam larutan
etanol 70% selama 5 menit, lalu dibilas dengan
aquades steril.
2. Tunas aksiler jati dibilas dengan aquades steril satu
kali. Kemudian direndam dalam larutan sublimat 1%
selama 5 menit, lalu dibilas dengan aquades steril
satu kali. Terakhir,tunas aksiler direndam dalam
58
larutan etanol 70% selama 5 menit menit, lalu dibilas
dengan aquades steril.
b. Pembuatan Medium
Medium yang digunakan dalam penelitian ini adalah medium
MS lengkap (Murashige dan Skoog) dengan penambahan
ZPT. Langkah awal adalah dengan pembuatan larutan induk
(stok) yang terdiri dari larutan stok makro, larutan stok mikro,
larutan vitamin dan larutan stok Fe-EDTA. Pembuatan larutan
stok bertujuan untuk mengefisiensi waktu pembuatan medium,
terutama dalam penimbangan atau penghitungan komponen
yang akan digunakan.
Adapun tahapan dalam pembuatan medium MS lengkap
dalam satu liter air adalah sebagai berikut :
1. Menyiapkan aquades 500 ml dalam beaker glass volume
1000 ml.
2. Menambahkan larutan stok yang sudah disiapkan ke
dalam beaker galss. Terdiri dari larutan A (stok makro)
sebanyak 20 ml, larutan B (stok mikro) sebanyak 20 ml,
larutan C sebanyak 5 ml, larutan D sebanyak 5 ml, vitamin
sebanyak 5 ml. Beaker glass yang telah berisi campuran
larutan tersebut selanjutnya diaduk dengan menggunakan
magnetic sterer.
3. Menimbang dan memasukkan 20 gram gula pasir.
4. Menambahkan aquades hingga volume larutan mendekati
1000 ml. Kemudian mengukur pH pada kisaran 5.6-5,8
jika terlalu asam ditambah NaOH dan bila terlalu basa
ditambah HCl.
5. Menambahkan ZPT yaitu NAA 100 ppm sebanyak 1 ml.
6. Menimbang dan memasukankan agar-agar sebanyak 12
gram. Setelah tercampur, beaker glass berisi medium
dipanaskan di dalam oven selam 6 menit kemudian
didinginkan selama 4 menit di atas magnetic sterer.
7. Menuangkan medium ke dalam botol kultur sebanyak ± 20
ml, kemudian di tutup dengan aluminium foil.
8. Tahapan terakhir adalah mensterilkan medium dalam
autoklaf dengan suhu 121°C, selama 30 menit. Lalu,
medium didinginkan dan disimpan dalam ruang inkubasi.
59
Medium dapat digunakan minimal setelah 3 hari untuk
mengetahui ada tidaknya kontaminansi.
c. Inokulasi Dan Inkubasi
Penanaman/Inokulasi eksplan dilakukan di dalam laminar air
flow cabinet. Eksplan yang telah disteriliasi dipindahkan ke
dalam cawan Petri. Kemudian, dikuliti permukaannya dengan
menggunakan scalpel. Setelah itu, tunas dipotong dengan
panjang ± 2-3 cm dan eksplan diinokulasikan pada medium.
Selanjutnya botol medium ditutup dengan aluminium foil dan
diinkubasi di ruang kultur selama 3 minggu.
d. Pengamatan
Pengamatan dilakukan pada seluruh eksplan yang ditanam
dalam setiap satuan perlakukan, meliputi :
a. Kecepatan kontaminasi eksplan
b. Jumlah eksplan terkontaminasi
C. HASIL DAN PEMBAHASAN
1. HASIL
Tunas aksiler jati yang telah disterilisasi menunjukkan hasil yang
berbeda pada kecepatan kontaminasinya. Pengamatan yang
dilakukan secara deskriptif setiap hari (kecuali sabtu dan minggu)
menunjukkan bahwa eksplan yang disterilisasi menggunakan
clorox 2 % lebih cepat terkontaminasi dibandingkan eksplan yang
disterilkan menggunakan sublimat. Kontaminasi eksplan dengan
perlakuan clorox tampak pada hari setelah tanam (HST) 1 dimana
2 dari 20 eksplan terkontaminasi. Sedangkan kontaminasi eksplan
dengan perlakuan sublimat tampak pada hari setelah tanam (HST)
3 dan hanya satu eksplan yang terkontaminasi. Minggu pertama
menunjukkan total eksplan kontam pada perlakuan clorox adalah 6
eksplan sedangkan perlakuan sublimat 2 eksplan.
60
HST (Minggu Pertama)
Eksplan Kontam
Sublimat
Clorox
HST (Minggu Kedua)
Eksplan Kontam
Sublimat
Clorox
Pengamatan kontaminasi pada minggu kedua dan ketiga
menunjukkan bahwa jumlah eksplan kontam lebih banyak terjadi
pada eksplan yang diperlakukan dengan clorox daripada perlakuan
dengan sublimat. Pada minggu kedua hanya ada 6 eksplan bebas
kontaminan dari 14 eksplan tersisa yang diperlakukan dengan
clorox. Sedangkan eksplan yang diperlakukan dengan sublimat
menyisakan 12 eksplan bebas kontam dari 18 eksplan yang tersisa.
61
Minggu ketigapun masih terjadi kontaminasi eksplan pada kedua
perlakuan dimana jumlah eksplan yang terkontaminasi pada
perlakuan clorox sebanyak 4 eksplan dan 6 eksplan pada
perlakuan sublimat.
HST (Minggu Ketiga)
Eksplan Kontam
Sublimat
Clorox
Pengamatan minggu terakhir (minggu keempat) tidak
menunjukkan adanya kontaminasi eksplan, baik pada perlakuan
clorox maupun pada perlakuan sublimat. Total eksplan kontam
pada perlakuan clorox adalah sebanyak 18 eksplan dari 20
eksplan, sedangkan total eksplan kontam pada perlakuan sublimat
berjumlah 14 eksplan dari 20 eksplan dengan kata lain hanya ada
2 eksplan bebas kontaminan pada perlakuan clorox dan 6 eksplan
bebas kontaminan pada perlakuan sublimat.
2. PEMBAHASAN
Jika ditinjau dari kecepatan (waktu) kontaminasi, baik eksplan
dengan perlakuan clorox maupun eksplan dengan perlakuan
sublimat, maka kontaminasi tersebut dinamakan initial contaminant
karena kontaminasi muncul beberapa hari setelah inokulasi. Initial
contaminant merupakan jenis kontaminasi yang dapat disebabkan
karena materi kultur (eksplan) yang berasal dari greenhouse atau
62
lapangan terlalu kotor dan sterilisasi yang dilakukan kurang optimal.
Selain itu, kontaminasi ini ditandai dengan munculnya kontaminan
beberapa hari setelah inokulasi dimana pada percobaan ini
eksplan dengan perlakuan clorox terkontaminasi pada HST 1 dan
eksplan dengan perlakuan sublimat terkontaminasi pada HST 3.
George (2008) mengemukakan bahwa kontaminan yang paling
sering, menyerang eksplan adalah bakteri dan fungi. Respon
eksplan terhadap bakteri adalah 2 x 24 jam, sedangkan respon
eksplan terhadap fungi adalah 1 x 24 jam. Maka dapat dipastikan
bahwa kontaminasi yang terjadi pada eksplan clorox disebabkan
oleh fungi karena kontaminasi muncul pada HST 1. Walaupun
demikian kontaminasi eksplan sublimat tidak dapat dikatakan
berasal dari bakteri karena responnya lebih dari 1 x 24 jam. Hal ini
dikarenakan penampakan morfologi kontaminan eksplan clorox
dan eksplan sublimat tidak berbeda dimana pada permukaan
eksplan yang terkontaminasi terdapat bulu-bulu halus berwarna
putih. Menurut Irwanto (2006), bakteri yang mengkontaminasi
eksplan akan membentuk gumpalan lumpur pada permukaan
medium dan berwarna kuning atau orange. Sehingga diasumsikan
eksplan sublimatpun terkontaminasi oleh fungi.
Kontaminasi pertama pada semua eksplan terjadi di bagian ujung
eksplan lalu menyebar ke seluruh permukaan eksplan. Hal
tersebut dapat diindikasikan karena kurang optimalnya proses
penggosokan bulu-bulu halus yang terdapat di permukaan eksplan
pada teknik sterilisasi awal dimana bagian ujung eksplan tersebut
memiliki tekstur yang relatif lebih lunak dibandingkan bagian
eksplan lainnya. Sehingga penggosokan yang terlalu intens dapat
menyebabkan kerusakan jaringan eksplan.
Hasil pengamatan selama empat minggu menunjukkan bahwa
eksplan yang direndam dalam larutan sublimat 1% memiliki daya
tahan yang lebih tinggi terhadap kontaminan dibandingkan dengan
eksplan yang direndam dalam larutan clorox 2%. Dari jumlah total
20 botol untuk masing-masing jenis sterilan, enam eksplan yang
disterilkan dengan sublimat mampu bertahan dari kontaminasi
sedangkan untuk eksplan bebas kontaminan yang disterilisasi
dengan clorox hanya berjumlah dua. Karena itulah eksplan yang
merupakan tanaman berkayu seperti jati dianjurkan disterilisasi
63
menggunakan sublimat. Hidayat (2005) menyebutkan bahwa
bahan sterilisasi seperti clorox relatif belum efektif untuk
mensterilkan eksplan tanaman berkayu seperti Surian (Toona
sinensis) jika dibandingkan dengan sublimat meskipun konsentrasi
clorox yang digunakan lebih tinggi daripada konsentrasi sublimat.

SUMBER : Oleh:
Rudi Hartono2
Balai Besar Penelitian Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan
Jl. Palagan tentara Pelajar Km. 15 Purwobinangun Pakem Sleman
Yogyakarta ( 0274 ) 895954 ; 896080 / Fax ( 0274 ) 896080;
E-mail : breeding@biotifor.or.id
2E-mail : die_no90@yahoo.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar